F i t r i a

June 27, 2006

Tidak harus selalu berwujud bunga

Filed under: Love

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang  bidang. 

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. 

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah  saya dapatkan. 

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal. 

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya. Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya  semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?

Dan akhirnya suami saya bertanya, " Apa yang dapat saya  lakukan untuk merubah pikiran kamu ?" Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab  dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat  menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan  merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang  ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu  memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya ?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan  memberikan jawabannya besok."  Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.  Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya  dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan… "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."  Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya. "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’  datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal." "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu  dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan  mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua  nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku  kamu dan mencabuti uban kamu."  "Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing  kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah  seperti cantiknya wajah kamu." "Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah  yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati.  Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian saya."  "Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk  itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan  saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya  tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki,  dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat  tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetapberusaha untuk terus membacanya. "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,  dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah  ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang  sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu." "Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang,  biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang  saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia." Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya  berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil  tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.  Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah  mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat  memberikan  cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah  hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud  cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.  Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://caio.blogsome.com/2006/06/27/tidak-harus-selalu-berwujud-bunga/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.